Saturday, July 25, 2020

Belajar Empati Sebagai Sarana Mengurangi Moral Disengagement

Belajar Empati Sebagai Sarana Mengurangi

Moral Disengagement

 

Dr. Dessi Christanti, M.Si.

Fakultas Psikologi

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


Pengertian Moral Disengagement

 

Setiap individu memiliki panduan moral dalam dirinya.  Individu mengetahui moral melalui interaksi dengan lingkungannya maupun melalui pendidikan di sekolah. Berbagai moral yang diperoleh individu tersebut  menjadi standar moral individu yang berfungsi sebagai pedoman perilaku. Namun demikian kadang-kadang individu masih melakukan pelanggaran moral, misalnya saja berbohong melakukan bullying, mencuri atau melakukan pemerkosaan.

Acapkali, ketika individu akan melakukan tindakan yang tercela, terdapat pertentangan dalam dirinya. Pertentangan tersebut antara ingin melakukan perbuatan yang melanggar moral dan panduan moral dalam dirinya yang bisa mencegah individu melakukan perbuatan yang tercela. Individu mengalami perasaan bersalah ketika dihadapkan pada keinginan melanggar moral. Pada saat mengalami konflik dalam dirinya, individu kadang-kadang kemudian membuat berbagai alasan agar ia dapat melakukan perbuatan yang tercela tersebut tanpa merasa bersalah.   Intinya individu mencoba melakukan rasionalisasi agar ia dapat membenarkan dirinya untuk tindakan yang melanggar moral tersebut. Proses rasionalisasi tersebut dalam psikologi dinamakan moral disengagement  (Bandura, 1986, 2016).  Jadi moral disengagement adalah  proses kognisi yang melibatkan rasionalisasi dan  pembenaran ketika individu melakukan perbuatan yang menyimpang dari moral atau  etika.

Terdapat delapan moral disengagement yang dapat dilakukan oleh individu ketika berada dalam situasi yang memungkinkan individu melanggar moral. yaitu:

1.      Moral justification (pembenaran moral)

Individu melakukan rasionalisasi yang dapat membenarkan perbuatannya. Salah satu contoh dari moral justification adalah para atlet yang berlaku curang. Menurut para atlet tersebut tujuan kompetisi adalah untuk menang sehingga wajar berbuat curang untuk memenangkan pertandingan.

2.      Palliative comparison/advantegous camparison

Suatu perbuatan dapat dinilai berdasarkan perbandingan dengan perbuatan lainnya. Individu membandingkan dengan perilaku negatif lain yang dampak negatifnya lebih besar dan menganggap bahwa pilihan perilaku yang positif kurang efektif dibandingkan perilaku yang negatif, menganggap bahwa apa yang dilakukan sebagai pencegahan untuk kerusakan yang lebih besar.

3.      Euphemistic labelling

Eufimisme telah digunakan secara luas untuk membentuk persepsi orang lain sehingga perbuatan yang sebenarnya kejam tidak lagi terdengar kejam. Salah satu contoh penggunaan euphemistic labeling adalah yang dilakukan oleh para perawat ketika melakukan kesalahan. Para perawat tersebut mengatakan kegagalan dalam memberika obat hanyalah sebuah gangguan atau lupa..

4.      Displacement of responsibilty

Displacement of responsibilty terjadi ketika individu merasa melakukan perbuatan melanggar hukum atas perintah orang lain yang memiliki otoritas. Dengan demikian individu tidak perlu bertanggung jawab atas akibat dari perbuatannya. Sebagai contoh para algojo yang bertugas melakukan eksekusi hukuman mati akan mengatakan bahwa mereka membunuh para terhukum mati atas perintah pengadilan. Dengan demikian para eksekutor terhindar dari rasa tanggungjawab pribadi dan perasaan bersalah..

5.      Diffusion of responsibility

Peran kontrol terhadap moral dapat menjadi lemah apabila individu merasa terdapar kekaburan tanggung jawab.. Diffusion of responsibility tampak dalam proses pengerjaan produk industri, katika terjadi kesalahan maka pegawai dapat menyalahkan divisi lainnya. Hal ini karena dalam industri terdapat beberapa divisi atau bagian dengan tugas yang berbeda.

6.      Disregard or Distortion of Consequences

Cara lain untuk melemahkan peran kontrol moral adalah mengabaikan atau meminimalkan akibat dari perbuatannya tersebut. Meminimalkan kerusakan dilakukan oleh presiden Bush dengan cara melakukan kontrol terhadap penayangan perang Irak dan Afganishtan di televisi. Dengan cara ini, presiden Bush dapat mencegah persepsi negatif masyarakat Amerika terhadap serangan militer yang ia lakukan.

7.      Dehumanization

Cara individu memandang dan menghargai orang lain turut menentukan apakah individu mampu melakukan perbuatan yang tidak manusiawi atau melanggar hukum. Individu memandang korban lebih rendah dari dirinya. Sebagai contoh, anak-anak pelaku bullying menganggap bahwa korban adalah pecundang.

8.      Attribution of blame

Menyalahkan orang lain (korban) dan lingkungan adalah salah satu cara yang biasanya dipakai individu ketika melakukan perbuatan yang melanggar hukum (Bandura, 1986, 2002). Contoh dari attribution of blame adalah menyalahkan perempuan sebagai pihak yang mengundang terjadinya pemerkosaan pada diri mereka.

 

Empati dan Moral Disengagement

 

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, salah satu faktor penyebab individu melakukan moral disengagement adalah rendahnya empati dalam diri individu. Empati adalah perasaan yang berkaitan dengan moral. Empati muncul ketika individu melihat pederitaan orang lain. Individu dengan empati tinggi akan merasa kasihan pada orang yang mengalami penderitaan. Sebaliknya bila individu memiliki empati rendah, ia akan mengabaikan orang yang menderita. Jadi dapat dipahami, ketika empati individu rendah maka individu dapat dengan mudah membuat alasan yang dapat membenarkan dirinya melakukan perbuatan tercela pada orang lain.

Sebagai contoh adalah perilaku bullying. Individu yang memiliki empati rendah dapat melakukan dehumanisasi atau merendahkan korban. Pelaku menganggap bahwa korban adalah pecundang yang pantas dikenai bullying. Contoh lain adalah apa yang terjadi pada pelaku pemerkosaan. Si pemerkosa akan menganggap penderitaan yang dialami korban akibat perbuatannya adalah hal yang keci, bahwa korban sebenarnya tidak menderita tetapi menyukai diperlakukan demikian. Demikian pula pada pelaku pencurian, si pelaku menganggap bahwa kerugian yang dialami korban akibat pencurian yang dilakukannya adalah bukan urusannya.

Tiga contoh tersebut menggambarkan bahwa ketika individu memiliki empati yang rendah, ia tidak bisa merasa kasihan atau sengaja mengabaikan perasaan korban. Pelaku kejahatan berpendapat bahwa apa yang dialami oleh korban bukan urusannya. Pemikiran ini memudahkan pelanggar moral melakuan rasionalisasi atau pembenaran untuk tetap meneruskan niatnya melakukan pelanggaran moral.

Moral disengagement membawa dampak negatif baik bagi individu maupun bagi orang lain yang menjadi korban pelanggaran moral individu. Apabila salah satu faktor yang menyebabkan individu melakukan  moral disengagement adalah rendanya empati maka untuk meminimalkan munculnya moral disengagement adalah meningkatkan empati dalam diri individu.

 

Belajar Empati

 

  Ada individu yang terlahir dengan memiliki empati yang tinggi namun ada juga yang tingkat empatinya masih kurang. Empati dapat ditumbuhkan dalam diri individu. Idealnya, sejak masih usia anak, individu sudah diajarkan untuk berempati. Belajar berempati pada orang lain dapat dilakukan oleh orangtua di rumah maupun di sekolah oleh guru. Inti dari pembelajaran empati adalah memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Langkah-langkah untuk mengajarkan empati adalah sebagai berikut:

Awal untuk belajar empati adalah mengenal berbagai macam perasaan dan apa penyebab perasaan tersebut. Individu dapat mengalami perasaan marah, senang, terkejut, sedih, bosan, takut, khawatir dan kecewa. Anak dapat mengeksplorasi dirinya kapan dia mengalami berbagai perasaan tersebut dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan tersebut. Sebagai contoh, perasaan bahagia akan dialami anak bila ia mendapat hadiah atau nilai bagus atau dipuji. Perasaan marah dapat dialami anak ketika ia diperlakukan tidak adil. Perasaan sedih mungkin dapat dialami anak ketika ia dihina atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman.

2.      Apabila anak sudah dapat mengenal berbagai perasaan dalam dirinya dan penyebabnya, tahap selanjutnya adalah memberi pemahaman pada anak bahwa orang lain dapat mengalami berbagai perasaan tersebut. Pada tahap ini, orang tua atau guru juga memberi pemahaman bahwa perlakuan kita pada orang lain dapat menjadi penyebab munculnya salah satu atau beberapa perasaan tersebut. Sebagai contoh ketika anak memberi hadiah kejutan pada temannya yang berulang tahun, si teman dapat mengalami perasaan bahagia bercampur terkejut.

3.      Orang tua dan guru dapat terus melatih anak untuk berempati dengan memberi anak pertanyaan mengenai perasaannya setelah individu mengalami sesuatu. apa yang kamu rasakan? Bagaimana perasaanmu?   Pertanyaan ini megajarkan anak untuk peka pada apa yang dirasakan dan mengetahui penyebabnya.

4.      Ketika anak berkonflik dengan orang lain, orangtua atau guru dapat melatih anak  memecahkan masalah menggunakan metode STOP – THINK – DO.

a.    STOP – anak diajak berpikir masalah yang terjadi apa, melibatkan siapa saja, dampaknya apa, bagaimana perasaannya, bagaimana perasaan orang yang terlibat dalam msalah tersebut.

b.      THINK – anak diajak berpikir, alternative memecahkan masalahnya apa?

c.   DO – memilih salah satu alternatif pemecahan masalah. Tentu saja jika pemecahan masalah yang dipilih anak dianggap kurang tepat, orangtua atau guru dapat mengajak anak ke tahap THINK kembali.

 Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi orangtua dan guru untuk dapat meningkatkan empati pada anak. Diharapkan nantinya empati yang tinggi dapat mencegah individu membuat moral disengagement.


No comments:

Post a Comment

Wirausahawan Cilik

    Wirausahawan Cilik Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menuru...