Saturday, August 29, 2020

Wirausahawan Cilik

 Perbedaan Besar Karyawan dan Wirausahawan – digie 

Wirausahawan Cilik


Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menurun dari para nenek dan nenek buyutnya.

Anak saya pertama kali jualan ketika masih ada di TK A. Tiba-tiba anak saya bilang kalau ia ingin jualan mainannya. Ia sendiri yang memberi harga di mainannya... Akhirnya, saya dan suami menemani anak saya jualan mainan bekas di pasar dekat rumah. Kami menggelar koran sebagai tempat untuk barang-barang. Untunglah, ada ibu teman anak saya di TK yang lewat dan mau membeli satu mainan. Duh, anak saya senang sekali.

Saya awalnya, mengira itu hanya kesenangan sesaat, namun terus berlanjut.

Saya ingat, ketika kelas satu sekolah dasar, anak saya juga jualan ke teman-temannya. Dia jualan gantungan kunci. Ketika pulang sekolah, anak saya cerita bahwa banyak temannya yang membeli. Saya heran, buat apa anak kelas satu SD membeli gantungan kunci. Saya tanya ke anak saya, bagaimana cara kamu menjual. Anak saya cerita kalau ia bilang ke teman-temannya jika membeli dua gantungan kunci akan diberi hadiah. Lalu saya tanya lagi apa hadiahnya? Anak saya dengan polosnya bilang hadiahnya adalah nomor telepon Pizza Hut. Rupanya, anak saya menaruh gantungan kunci itu di wadah plastik bekas salad Pizza Hut. Di tutup wadah plastik itu ada nomor telepon Pizza Hut. Saya hanya geleng geleng kepala, antara kagum dan geli.



Ketika kelas lima SD, anak saya berjualan topeng. Ia membeli secara online dan menjualnya ke teman-temannya. Ia menggunakan sistem pre - order. Ia juga meminta dua orang teman untuk menawarkan ke teman-teman lainnya. Ia menjanjikan topeng gratis pada dua orang temannya itu. Jualan topeng ini terbilang cukup sukses karena ia dan dua orang temannya bisa mendapatkan topeng gratis plus sedikit keuntungan. 

Lain lagi ketika anak saya kelas enam SD. Ia sempat berjualan uang lama untuk koleksi. Ini terjadi secara tidak sengaja. Anak saya menerima uang kembalian koin yang masih baru. Temannya lalu meminta uang koin tersebut. Anak saya lalu melihat ini sebagai peluang berjualan uang lama untuk koleksi. Untuk menarik minat teman-temannya itu, anak saya menjelaskan ini uang jaman kapan dan cara mengkoleksi uang lama. Anak saya juga memberitahu link di youtube tentang koleksi uang lama. Cukup banyak teman-temannya yang tertarik untuk membeli uang lama.  Sampai-sampai anak saya minta salah satu temannya yang orangtuanya kaya menjadi pemodal sehingga anak saya bisa kulakan uang lama. Jualan ini sukses karena anak saya mendapat untung  banyak. 

Sebagai orangtua, tentu saya bangga (dan heran) dengan apa yang dilakukan oleh anak saya. Saya tetap mendukung, mendoakan dan mengarahkan saja agar anak saya semakin berkembang. Karena, bukankah itu kewajiban orangtua. Mudah-mudahan kelak anak saya menjadi wirausahawan sejati seperti Chairul Tanjung, Ciputra, Nadiem Makarim, Donald Trump, Bill Gates ataupun Jack Ma.

Amin. 



Saturday, July 25, 2020

Belajar Empati Sebagai Sarana Mengurangi Moral Disengagement

Belajar Empati Sebagai Sarana Mengurangi

Moral Disengagement

 

Dr. Dessi Christanti, M.Si.

Fakultas Psikologi

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


Pengertian Moral Disengagement

 

Setiap individu memiliki panduan moral dalam dirinya.  Individu mengetahui moral melalui interaksi dengan lingkungannya maupun melalui pendidikan di sekolah. Berbagai moral yang diperoleh individu tersebut  menjadi standar moral individu yang berfungsi sebagai pedoman perilaku. Namun demikian kadang-kadang individu masih melakukan pelanggaran moral, misalnya saja berbohong melakukan bullying, mencuri atau melakukan pemerkosaan.

Acapkali, ketika individu akan melakukan tindakan yang tercela, terdapat pertentangan dalam dirinya. Pertentangan tersebut antara ingin melakukan perbuatan yang melanggar moral dan panduan moral dalam dirinya yang bisa mencegah individu melakukan perbuatan yang tercela. Individu mengalami perasaan bersalah ketika dihadapkan pada keinginan melanggar moral. Pada saat mengalami konflik dalam dirinya, individu kadang-kadang kemudian membuat berbagai alasan agar ia dapat melakukan perbuatan yang tercela tersebut tanpa merasa bersalah.   Intinya individu mencoba melakukan rasionalisasi agar ia dapat membenarkan dirinya untuk tindakan yang melanggar moral tersebut. Proses rasionalisasi tersebut dalam psikologi dinamakan moral disengagement  (Bandura, 1986, 2016).  Jadi moral disengagement adalah  proses kognisi yang melibatkan rasionalisasi dan  pembenaran ketika individu melakukan perbuatan yang menyimpang dari moral atau  etika.

Terdapat delapan moral disengagement yang dapat dilakukan oleh individu ketika berada dalam situasi yang memungkinkan individu melanggar moral. yaitu:

1.      Moral justification (pembenaran moral)

Individu melakukan rasionalisasi yang dapat membenarkan perbuatannya. Salah satu contoh dari moral justification adalah para atlet yang berlaku curang. Menurut para atlet tersebut tujuan kompetisi adalah untuk menang sehingga wajar berbuat curang untuk memenangkan pertandingan.

2.      Palliative comparison/advantegous camparison

Suatu perbuatan dapat dinilai berdasarkan perbandingan dengan perbuatan lainnya. Individu membandingkan dengan perilaku negatif lain yang dampak negatifnya lebih besar dan menganggap bahwa pilihan perilaku yang positif kurang efektif dibandingkan perilaku yang negatif, menganggap bahwa apa yang dilakukan sebagai pencegahan untuk kerusakan yang lebih besar.

3.      Euphemistic labelling

Eufimisme telah digunakan secara luas untuk membentuk persepsi orang lain sehingga perbuatan yang sebenarnya kejam tidak lagi terdengar kejam. Salah satu contoh penggunaan euphemistic labeling adalah yang dilakukan oleh para perawat ketika melakukan kesalahan. Para perawat tersebut mengatakan kegagalan dalam memberika obat hanyalah sebuah gangguan atau lupa..

4.      Displacement of responsibilty

Displacement of responsibilty terjadi ketika individu merasa melakukan perbuatan melanggar hukum atas perintah orang lain yang memiliki otoritas. Dengan demikian individu tidak perlu bertanggung jawab atas akibat dari perbuatannya. Sebagai contoh para algojo yang bertugas melakukan eksekusi hukuman mati akan mengatakan bahwa mereka membunuh para terhukum mati atas perintah pengadilan. Dengan demikian para eksekutor terhindar dari rasa tanggungjawab pribadi dan perasaan bersalah..

5.      Diffusion of responsibility

Peran kontrol terhadap moral dapat menjadi lemah apabila individu merasa terdapar kekaburan tanggung jawab.. Diffusion of responsibility tampak dalam proses pengerjaan produk industri, katika terjadi kesalahan maka pegawai dapat menyalahkan divisi lainnya. Hal ini karena dalam industri terdapat beberapa divisi atau bagian dengan tugas yang berbeda.

6.      Disregard or Distortion of Consequences

Cara lain untuk melemahkan peran kontrol moral adalah mengabaikan atau meminimalkan akibat dari perbuatannya tersebut. Meminimalkan kerusakan dilakukan oleh presiden Bush dengan cara melakukan kontrol terhadap penayangan perang Irak dan Afganishtan di televisi. Dengan cara ini, presiden Bush dapat mencegah persepsi negatif masyarakat Amerika terhadap serangan militer yang ia lakukan.

7.      Dehumanization

Cara individu memandang dan menghargai orang lain turut menentukan apakah individu mampu melakukan perbuatan yang tidak manusiawi atau melanggar hukum. Individu memandang korban lebih rendah dari dirinya. Sebagai contoh, anak-anak pelaku bullying menganggap bahwa korban adalah pecundang.

8.      Attribution of blame

Menyalahkan orang lain (korban) dan lingkungan adalah salah satu cara yang biasanya dipakai individu ketika melakukan perbuatan yang melanggar hukum (Bandura, 1986, 2002). Contoh dari attribution of blame adalah menyalahkan perempuan sebagai pihak yang mengundang terjadinya pemerkosaan pada diri mereka.

 

Empati dan Moral Disengagement

 

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, salah satu faktor penyebab individu melakukan moral disengagement adalah rendahnya empati dalam diri individu. Empati adalah perasaan yang berkaitan dengan moral. Empati muncul ketika individu melihat pederitaan orang lain. Individu dengan empati tinggi akan merasa kasihan pada orang yang mengalami penderitaan. Sebaliknya bila individu memiliki empati rendah, ia akan mengabaikan orang yang menderita. Jadi dapat dipahami, ketika empati individu rendah maka individu dapat dengan mudah membuat alasan yang dapat membenarkan dirinya melakukan perbuatan tercela pada orang lain.

Sebagai contoh adalah perilaku bullying. Individu yang memiliki empati rendah dapat melakukan dehumanisasi atau merendahkan korban. Pelaku menganggap bahwa korban adalah pecundang yang pantas dikenai bullying. Contoh lain adalah apa yang terjadi pada pelaku pemerkosaan. Si pemerkosa akan menganggap penderitaan yang dialami korban akibat perbuatannya adalah hal yang keci, bahwa korban sebenarnya tidak menderita tetapi menyukai diperlakukan demikian. Demikian pula pada pelaku pencurian, si pelaku menganggap bahwa kerugian yang dialami korban akibat pencurian yang dilakukannya adalah bukan urusannya.

Tiga contoh tersebut menggambarkan bahwa ketika individu memiliki empati yang rendah, ia tidak bisa merasa kasihan atau sengaja mengabaikan perasaan korban. Pelaku kejahatan berpendapat bahwa apa yang dialami oleh korban bukan urusannya. Pemikiran ini memudahkan pelanggar moral melakuan rasionalisasi atau pembenaran untuk tetap meneruskan niatnya melakukan pelanggaran moral.

Moral disengagement membawa dampak negatif baik bagi individu maupun bagi orang lain yang menjadi korban pelanggaran moral individu. Apabila salah satu faktor yang menyebabkan individu melakukan  moral disengagement adalah rendanya empati maka untuk meminimalkan munculnya moral disengagement adalah meningkatkan empati dalam diri individu.

 

Belajar Empati

 

  Ada individu yang terlahir dengan memiliki empati yang tinggi namun ada juga yang tingkat empatinya masih kurang. Empati dapat ditumbuhkan dalam diri individu. Idealnya, sejak masih usia anak, individu sudah diajarkan untuk berempati. Belajar berempati pada orang lain dapat dilakukan oleh orangtua di rumah maupun di sekolah oleh guru. Inti dari pembelajaran empati adalah memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Langkah-langkah untuk mengajarkan empati adalah sebagai berikut:

Awal untuk belajar empati adalah mengenal berbagai macam perasaan dan apa penyebab perasaan tersebut. Individu dapat mengalami perasaan marah, senang, terkejut, sedih, bosan, takut, khawatir dan kecewa. Anak dapat mengeksplorasi dirinya kapan dia mengalami berbagai perasaan tersebut dan apa yang menyebabkan munculnya perasaan tersebut. Sebagai contoh, perasaan bahagia akan dialami anak bila ia mendapat hadiah atau nilai bagus atau dipuji. Perasaan marah dapat dialami anak ketika ia diperlakukan tidak adil. Perasaan sedih mungkin dapat dialami anak ketika ia dihina atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman.

2.      Apabila anak sudah dapat mengenal berbagai perasaan dalam dirinya dan penyebabnya, tahap selanjutnya adalah memberi pemahaman pada anak bahwa orang lain dapat mengalami berbagai perasaan tersebut. Pada tahap ini, orang tua atau guru juga memberi pemahaman bahwa perlakuan kita pada orang lain dapat menjadi penyebab munculnya salah satu atau beberapa perasaan tersebut. Sebagai contoh ketika anak memberi hadiah kejutan pada temannya yang berulang tahun, si teman dapat mengalami perasaan bahagia bercampur terkejut.

3.      Orang tua dan guru dapat terus melatih anak untuk berempati dengan memberi anak pertanyaan mengenai perasaannya setelah individu mengalami sesuatu. apa yang kamu rasakan? Bagaimana perasaanmu?   Pertanyaan ini megajarkan anak untuk peka pada apa yang dirasakan dan mengetahui penyebabnya.

4.      Ketika anak berkonflik dengan orang lain, orangtua atau guru dapat melatih anak  memecahkan masalah menggunakan metode STOP – THINK – DO.

a.    STOP – anak diajak berpikir masalah yang terjadi apa, melibatkan siapa saja, dampaknya apa, bagaimana perasaannya, bagaimana perasaan orang yang terlibat dalam msalah tersebut.

b.      THINK – anak diajak berpikir, alternative memecahkan masalahnya apa?

c.   DO – memilih salah satu alternatif pemecahan masalah. Tentu saja jika pemecahan masalah yang dipilih anak dianggap kurang tepat, orangtua atau guru dapat mengajak anak ke tahap THINK kembali.

 Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi orangtua dan guru untuk dapat meningkatkan empati pada anak. Diharapkan nantinya empati yang tinggi dapat mencegah individu membuat moral disengagement.


Pacaran On Line Karena Masa Pandemi Covid 19

Pacaran On Line Karena Masa Pandemi Covid 19

Dr. Dessi Christanti, M.Si.

Fakultas Psikologi

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Hakekat Pacaran

Pacaran dapat diartikan sebagai hubungan serius antar dua orang berlainan jenis agar dapat lebih mengenal satu sama lain yang berlanjut ke pernikahan. Jadi sebenarnya pacaran merupakan tahapan sebelum menikah. Pacaran memiliki tujuan untuk menikah. Ini memang sesuai dengan sejarah pacaran di Indonesia yang berasal dari tradisi melayu.

Dalam sejarah Melayu, kata pacaran berasal dari kata pacar. Pacar adalah sejenis tanaman yang dapat digunakan untuk menghias tangan. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan nama tanaman inai. Tanaman mungkin sama dengan henai yang lazim digunakan oleh orang India.  Dulu di masyarakat melayu, bila ada seorang pemuda yang tertarik pada seorang gadis, pemuda itu akan mengirimkan tim pantun. Tim Pantun ini akan membacakan pantun di depan halaman rumah si gadis idamannya.  Bila si gadis suka maka si gadis akan membalas pantun tersebut.  Bila kedua sejoli ini ingin melanjutkan hubungan maka masing-masing orangtua akan memakaikan inai pada tangan si gadis dan si pemuda. Inai ini sebagai tanda bahwa keduanya memiliki hubungan. Tentu saja pada jaman itu meskipun sudah ada tanda ikatan, keduanya tidak bisa bebas melakkan kegiatan sebagaimana pacaran jaman sekarang.  Justru si pemuda harus menyiapkan diri untuk melamar si gadis sebelum inai di tangan luntur/hilang. Biasanya Inai atau pacar ini akan hilang dalam waktu 3 bulan.  Jadi waktu 3 bulan ini diperuntukkan bagi si pemuda untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan melamar gadis pujaan.  Jika inai di tangan luntur dan si pemuda belum melamar si gadis maka dengan sendirinya hubungan tersebut dianggap hilang dan si gadis berhak menerima pinangan pemuda lain.

Kalau dilihat dari sejarahnya, pacaran memang dikenal dalam suatu hubungan antara pemuda dan gadis Hanya saja arti dan bentuk pacarannya berbeda dengan pacaran yang dikenal di masyarakat modern. Sesuai dengan perkembangan jaman dan juga pengaruh dari budaya barat, arti dari pacaran menjadi semakin luas batasannya.  Pacaran menjadi masa untuk penjajagan atau mengenal pasangan sebelum ke jenjang pernikahan. Masa penjajagan ini dibarengi dengan berbagai aktivitas, misalnya pergi bareng atau makan bareng,  nonton bioskop bareng dan sebagainya. Namun makna utamanya tidak berubah yaitu mengenal satu sama lain yang berlanjut ke pernikahan.

Dalam ilmu psikologi terdapat teori yang membahas tentang tahapan hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan yaitu teori SVR. Kepankangan dari  SVR adalah stimulus, value and role. Ini merupakan tahapan menuju ke jenjang pernikahan. Tahapan pertama adalah  tahap stimulus. Seorang pria menyadari kehadiran stimulus  yaitu seorang wanita dan sebaliknya. Misalnya pria melihat perempuan yang dianggapnya menarik entah di kelas, di taman, di jalan atau di mana saja. Pada tahap ini memang biasanya ketertarikan pada seseorang masih berdasarkan atribut eksternal yang kebanyakan adalah atribut fisik, cantik, seksi, rambut panjang, tinggi dan sebagainya. Sesuai dengan kriteria dari pria. Demikian pula perempuan melihat pria secara fisik walaupun yang membuat jatuh cinta seorang wanita biasanya bukan fisik namun bisa jadi untuk  mau berkenalan dengan pria, faktor fisik juga menjadi pertimbangan awal, ganteng, atletis, six pack.

Kenapa penampilan berpengaruh,  Ini karena ada faktor halo efek (meskipun tidak selamanya betul) jadi menghubungkan satu hal yang positif dengan hal positif lainnya dan menghubungkan satu hal yang negatif dengan negative lainnya. 

Tahap kedua adalah value, di tahap ini pasangan laki-laki dan perempuan ini mulai semakin tertarik dan ingin mengenal satu sama lain. Mengenal kebiasaannya, sifatnya, nilai-nilai yang  dianut  dan sebagainya. Tahap ini adalah tahap pacaran.. Orang yang tepat sebagai pasangan hidup saya.  Gaya berpacaran tentu berubah-ubah sesuai dengan jamannya.  Kalau jaman dulu, menggunakan surat, lalu telepon, yang gak punya telpon di rumah pakai telpon koin atau rela antri di wartel. Pada jaman sekarang meruakan hal yang lumrah berpacaran menggunakan media sosial.

Tahap terakhir adalah role atau peran. Di tahap ini pasangan mengikrarkan diri sehidup semati sebagai suami istri. Pria akan berperan sebagai suami dan ayah nantinya. Perempuan berperan sebagai istri dan ibu nantinya. 

Bagaimana dengan pacaran on line di masa pandemic Covid 19?

Sebenarnya sebelum pandemic  covid 19 pun,  sudah banyak  pasangan remaja yang menggunakan media sosial untuk pacaran. Minimal untuk berkomunikasi dengan pacar,. Jadi buat generasi sekarang, pacaran on line sudah bukan hal yang asing.

Namun dengan situasi pandemic covid 19  ini, pacaran on line seperti “dipaksa atau dikondisikan”. Mau tidak mau harus gaya beracaran harus menyesuaikan dengan situasi saat ini. Kalau beajar saja lewat on line, maka berpacaran pun lewat  on line. Kalau sebelum pandemic  gaya berpacaran on line memang merupakan pilihan,  pasangan bisa memilih, mau menggunakan on line atau tidak. Kalau saat ini,  berpacaran harus on line.

Mungkin kemudian muncul pertanyaan,  sekarang kan aturan pembatasan sosia berskala besar sudah lebih longgar, dalam arti boleh bepergian asal menggunakan masker. Jadi bolehkah pergi berkencan dengan pacar ke café atau mall asal menggunakan masker. Bolehkah minimal berkunjung ke rumah pacar asalkan menggunakan masker?

Jawaban pertanyaan tersebut bisa berupa kalimat tanya.  Seberapa urgent atau seberapa penting sih untuk ketemu?  Penting gak seih harus kencan ke mall atau café? Urgent banget? Kalau gak urgent ngapain harus dipaksa ketemu? Kan kangen..…. hmmm kalau kangen mati gak ? Kalau enggak.. tunda dulu deh  ketemunya sampai corona pergi dan tak kembali. Lamakah masa pandemic Covid ini? Tidak tahu… situasi ini bergantung dari kedisiplinan masyarakat juga termasuk yang sedang beracaran yaitu

1.      Disiplin mengenakan masker bila  terpaksa harus pergi ke luar rumah.

2.      Disiplin menjaga jarak.

3.      Disiplin mencuci tangan menggunakan sabun atau menggunakan desinfektan. 

4.      Bila tidak ada kepentingan yang mendesak lebih baik tinggal di rumah saja.

Anggap aja tinggal di rumah dan pacaran on line merupakan ujian bukti cinta Anda. Kalau Anda cinta pada pacar Anda, justru dengan menghindari tatap muka Anda menyelamatkan pacar Anda. Itulah bukti cinta Anda. Gadget kan sudah canggih, kalau kangen dengan wajahnya yang imut, wajahnya yang ganteng bisa menggunakan video call.

 

Apa yang bisa dilakukan saat Pacaran On line ?

Berpacaran secara on line memang perlu kreativitas agar tidak membosankan. Berpacaran secara on line bukan berarti hanya bisa chatting, namun juga bisa melakukan aktivitas yang lain walaupun tetap saja terbatas. Faktor utama adalah bagaimana pasangan menghidupan suasana agar berpacaran secara on line bisa tetap fun dan mengasyikkan.

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan saat berpacaran secara on line adalah sebagai berikut:

  1. Makan dan minum bersama. Tentu saja, aktivitas ini bukan dilakukan di café atau mall, melainkan di rumah masing-masing. Hanya saja dilakukan secara bersamaan dengan pacar dan sambil telpon atau chatting atau menggunakan zoom.
  2.  Main tik tok bersama pacar. Anda dan pacar bisa bermain tik tok sebagaimana yang dilakukan para selebritis. Jadi seakan-akan main bersama dalam satu tempat padahal masing-masing berada di rumahnya sendiri.
  3. Menonton film atau mendengerkan musik bersama pacar. Banyak aplikasi di media sosial saat ini yang memungkinkan anda dan pacar bisa menonton bersama ataupun mendengarkan music bersama  walaupun secara fisik berada di tempat yang berbeda.
  4. Bermain tebak foto kenangan. Permainan ini bisa dilakukan agar tidak bosan melakukan chatting dengan pacar
  5.  Bermain game on line, tentu saja aktivitas ini dapat dilakukan bila keduanya senang bermain game on line. Kalau hanya salah satu yang senang, sebaiknya memilih aktivitas lain yang bisa dilakukan bersama secara on line.

 

Selain memilih berbagai aktivitas yang bisa dilakukan saat pacaran on line, para pasangan juga sebaiknya memperhatikan beberapa hal saat berpacaran on line yaitu:

  1. Perhatikan waktu pacaran online. Hindari menelepon atau chatting saat hari sudah  larut  malam. Ini dapat mengganggu waktu istirahat pacar Anda. Hindari pula memonopoli  waktu pacar Anda. Ingat, pacar Anda juga memiliki aktivitas lain. 
  2. Buat percakapan yang menarik biar tidak membosankan, juga jangan hanya menanyakan hal yang rutin/standard, seperti apa kabar? sudah makan ?  Anda bisa menuliskan perasaan Anda, atau mengenang momen tertentu saat berpacaran.
  3. Menyatakan perasaan positif pada pasangan atau pada momen yang kalian alami berdua.
  4. Menyatakan perasaan sayang Anda lewat chat di saat yang tidak terduga. Misalkan saja, pacar Anda sedang menceritakan suatu kejadian yang dia alami, tiba-tiba spontan Anda mengatakan atau menulis perasaan sayang Anda. Tentu ini menjadi kejutan menyenangkan bagi pacar Anda.
  5. Tidak perlu secara rinci becerita apa yang kalian alami sehari-hari, cukup bagian yang        menarik/penting saja.
  6. Menggunakan kalimat yang sopan dan memposting  foto  yang sopan.
  7.   Jangan meminta si dia hanya memposting foto Anda atau foto kalian berdua.
  8. Jangan terlalu jarang/terlalu sering mengumbar posting foto kemesraan.
  9. Tidak perlu terlalu sering gonta ganti status
  10.  Jangan menjadi posesif dan mengenakan “wajib lapor” bagi pacar Anda. Hindari mengecek keberadaan pasangan setiap saat.
  11.  Jangan mengumbar perasaan negatif/marah pada pasangan di media sosial.

Ketika Anda berpacaran secara serius, anda dan pasangan harus selalu menjaga agar cinta Anda dan pasangan selalu bertumbuh. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang harus dijaga diantara Anda dan pasangan, yaitu:

1.      Komitmen atau menjaga janji Anda untuk setia.

2.      Passion atau gairah, selalu senang berada dekat pacar Anda, selalu ingin bertemu dengan pacar 

      Anda.

3.      Intimacy atau kedekatan, Anda dan pasangan bisa saling terbuka mencurahkan isi hati masing-

        masing.

4.      Komunikasi positif, menggnakan kalimat yang positif dan mau mendengarkan pasangan.

5.      Trust/percaya pada pasangan Anda.

6.      Bersedia meminta maaf bila Anda melakukan kesalahan dan bersedia memaafkan kesalahan 

       pasangan Anda.

Semoga, melalui tulisan ini dapat memberikan wawasan bagi mereka yang sedang berpacaran bagaimana bisa tetap berelasi dengan pacar selama pandemic Covid 19.

 

 

Monday, July 6, 2020

Penggemar Blackpink

                                      Fakta Lagu Baru BLACKPINK 'How You Like That' yang Akan Segera Rilis

Penggemar Blackpink
 
Blackpink is back dan langsung meraih sukses besar. Mantul alias mantap betul.

Saya suka blackpink. Mungkin bukan fans setia atau anggota fans club blackpink. Saya hanya suka dengan group penyanyi K-Pop yang satu ini Mungkin ini satu satunya group penyanyi korea yang saya suka (saya gak sempat nonton  yang lain sih...tapi yang pasti kalau group penyanyi korea cowok bisa dipastikan saya sama sekali gak ngefans, saya lebih suka Sharukh Khan atau Brad pitt yang usianya gak terpaut jauh dengan saya ha ha ha)

Mungkin saya satu-satunya penggemar blackpink yang jelita (jelang lima puluh tahun). Toh rasanya tidak ada larangan dan batasan usia untuk menggemari sesuatu. Tentu saja saya tidak akan meniru gaya blackpink yang keren itu. Saya juga tidak akan mencoba meng-cover lagu dan tarian blackpink. Bisa encok pinggang saya. Bahkan bila blackpink ke Indonesia saya tidak akan ngotot menonton konsernya. Sadar akan usia,.Cukup saya menikmati nyanyian dan tarian mereka di youtube manakala senggang. 

Saya tahu blackpink gara-gara penasaran setelah melihat video anak yang diimunisasi sambil menyanyi lagu blackpink du du du du. Saya lantas mencari tahu apa itu blackpink dan lagu du du du itu. Setelah nonton saya langsung suka dengan kuartet Jiso, Rose, Jenni dan Lisa. 

Apa yang membuat saya suka?... sulit menentukannya mungkin gaya menyanyi mereka yang memikat, mungkin lagunya yang easy listening, mungkin tarian mereka yang energik, mungkin juga penampilan mereka yang keren atau mungkin perpaduan itu semua. Ya.. saya suka semuanya dari gaya dan penampilan blackpink. 

Dibalik penanpilan mereka yang ditampilkan ke publik, setiap kali melihat video blackpink terlintas dalam benak saya berapa kali ya mereka latihan? Koq bisa mereka hafal gerakan tari seperti itu. Pastinya mereka bekerja keras melatih lagu dan gerakan koreografi yang bagi saya terlihat rumit. Kerja keras mereka membuat saya kagum. Kerja keras mereka tidak sia-sia karena apa yang mereka tampilkan disukai oleh banyak orang di berbagai negara. Ini bukti nyata perpaduan sempurna antara bakat dan kerja keras. 

Berbakat saja tidak cukup. Orang yang berbakat tapi tidak disiplin berlatih bisa kalah dari orang yang kurang berbakat namun mau bekerja keras. Ini saya pahami betul karena pelatih wushu dan guru piano anak saya kompak mengatakan hal yang sama. Bakat dan kerja keras merupakan perpaduan yang sempurna. Blackpink adalah salah satu contohnya. 

Saya lantas lanjut berpikir, apakah para penggemar blackpink sadar akan hal ini? Sadar bahwa kesuksesan blackpink adalah buah dari kerja keras mereka? Jangan-jangan para penggemar ini hanya terpukau oleh yang mereka lihat. Jangan-jangan hanya pesona dan blink blink di panggung yang menyita perhatian penggemar. Bila Ini yang terjadi maka bisa berbahaya karena para penggemar ini bisa terbuai mimpi. Para penggemar ingin seperti blackpink namun lupa ada harga yang harus dibayar yaitu kerja keras. 

Alangkah lebih bermanfaat bila yang kita tiru dari blackpink atau idola lainnya bukan hanya penampilan yang keren namun justru kerja keras mereka. Tidak salah sih meniru penampilan karena penampilan juga penting. Betul. Saya akan mendukung bila ada yang meniru gaya berbusana blackpink asalkan sesuai dengan pemakainya dan sesuai pula dengan situasi. Siapa sih yang tidak ingin terlihat keren? Namun meniru kerja keras mereka juga bermanfaat bagi diri kita. Bidang apapun yang kita tekuni asal kita terus berjuang tentu akan mendatangkan hasil yang postif. Memang sih, mungkin kita tidak akan sepert blackpink karena tidak semua penggemar blackpink jago menyanyi dan menari namun kita toh bisa sukses di bidang kita masing-masing asalkan mau bekerja keras. Jadi kita tidak hanya sekedar penggemar yang berteriak teriak menemui blackpink, berdandan ala blacckpink atau idola lainnya. Kita menjadi penggemar yang meniru kerja keras blackpink. .  

Ya... itu pemikiran saya sih.. mudah mudahan bermanfaat.
Sekarang lebih baik saya menonton Jiso, Rose, Jenni dan Lisa menyanyi dan menari.
Blackpink in your area...

BLACKPINK on the Message of New Single 'How You Like That' | Time


Sunday, July 5, 2020

Bantuan yang melenakan

Menolong Ya Harus Ikhlas, Kalau Mengharap Imbalan Itu Namanya ... Bantuan yang melenakan

Saya rasa orang akan sepakat bahwa membantu adalah perbuatan yang mulia. Norma dan ajaran agama manapun 100% juga akan mengatakan demikian. Pada dasarnya, membantu atau memberi pertolongan bertujuan untuk mensejahterakan orang yang kita tolong. Harapannya melalui bantuan yang kita berikan, orang yang kita tolong dapat lebih berdaya.

Namun apakah semua orang yang diberi pertolongan akan berusaha untuk lebih berdaya... Kejadian yang saya alami memaksa saya merenungkan hal ini.

Seseorang yang saya kenal, sebut saja A selalu meminta bantuan keuangan kepada keluarga besarnya (tante dan para saudara sepupu). Memang sih, A ini mengidap penyakit epilepsi, namun apakah itu bisa menjadi alasan untuk selalu minta bantuan keuangan? A ini sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Satu anaknya sudah lulus SMA sedangkan anak kedua baru mau masuk SMP. Saat ini A sudah berusia lebih dari 50 tahun dan tidak memiliki pekerjaan. Dulu, A dan anak istrinya menggantungkan diri pada uang pensiun ayahnya dan juga bantuan keuangan dari adik A. 

A ini dulunya anak emas ibunya. Maklum anak laki-laki satu-satunya. Sang ibu selalu membela A dan meminta sang adik untuk membantu kakaknya ini. Penyakit epilepsi selalu dijadikan alasan (atau senjata?) mengapa si A tidak bisa bekerja.


Kartun, Animasi, Gambar gambar png Awalnya, A beserta anak istrinya tinggal jadi satu rumah dengan adik dan ibunya. Namun kemudian, adik dan ibu memutuskan tinggal di tempat lain dengan harapan A dapat mandiri. Sayang, di sayang A tetap menolak bekerja dan tetap meminta bantuan keuangan dari adik.Lama kelamaan, tidak hanya sang adik yang menjadi sasaran meminta bantuan tapi para saudara sepupu juga dimintai bantuan keuangan untuk berbagai keperluan, misalnya membayar listrik, membayar wifi, uang keperluan sekolah anak dan sebagainya. Kadang terasa menggelikan dan ironi, bagaimana tidak pernah tagihan listrik rumah A lebih mahal dari tagihan listrik rumah yang memberi bantuan. Pernah pula salah seorang sepupu A memberi uang pada A untuk membayar tagihan wifi padahal saat itu sang sepupu belum berlangganan wifi. 

Pernah sih, salah seorang sepupu yang lain hendak memberikan modal pada A untuk berwirausaha, namun A dengan seribu satu alasan mengatakan bahwa tidak mungkin berdagang di daerah rumahnya.  Dua atau tiga kali A pernah mencoba berwiraswasta namun entah mengapa tidak pernah bertahan lama. A kemudian kembali ke kebiasaan lama yaitu meminta bantuan keuangan. 
Entah sampai kapan.....???? (What a big question)

Saya bukannya hendak mengumbar aib atau masalah seseorang. Namun, kasus A ini membuat saya berpikir bahwa kadang maksud baik tidak selalu berbuah baik. Memberi bantuan dapat melenakan seseorang yang dibantu. Alih-alih berusaha berdaya melalui bantuan yang diberikan, justru penerima bantuan menjadi malas. Ia menggunakan penyakitnya untuk memanipulasi rasa iba orang lain. Toh ada yang akan membantu. Buat apa repot bekerja.

Dalam tulisan ini, saya tak hendak menyalahkan siapapun yang terlibat dalam kasus A ini. Saya hanya merefleksi bahwa rasa iba bisa melumpuhkan seseorang. Kebetulan orang-orang di sekeliling A ini mau memberi bantuan keuangan entah karena merasa sebagai saudara, tidak tega, karena norma dan sebagainya. Akibatnya A memiliki pikiran bahwa hidupnya adaah tanggungjawab orang lain (ibu, adik dan sepupu) karena ia sakit. A tidak merasa perlu bekerja karena akan ada seseorang yang mau membantunya.  Sebuah pikiran yang keliru, menurut saya, sebab hidup atau nasib seseorang adalah tanggungjawab orang itu sendiri. Sah saha saja bila suatu kali meminta bantuan orang lain, tapi masa iya sih terus menerus atau bahkan seumur hidup? 

Apakah salah memberi bantuan? Hmm, menurut saya sih memberi bantuan tetap perbuatan mulia. Namun, merujuk kasus A apakah perlu kita juga berhati-hati dalam memberikan bantuan? Bila kita terus menerus memberi bantuan pada seseorang padahal orang itu tidak mau berusaha untuk berdaya apakah itu berarti kita menjerumuskan orang tersebut memiliki kebiasaan buruk? Entahlah.... karena kadang kita tahu bahwa orang yang dibantu itu menjadi parasit dalam hidup kita namun kita merasa takut bersalah bila tidak kita bantu orang tersebut akan celaka atau akan sengsara hidupnya. 

Bingung ya... saya pun juga bingung bila dihadapkan pada situasi ini. Tetap dibantu atau tidak. Serasa pepatah tentang buah simalakama. Bila dimakan ibu mati namun bila tidak dimakan bapak mati. 

Satu hal yang yang menurut saya bisa jadi bahan pertimbangan ketika kita merasa seseorang selalu minta bantuan terus menerus tanpa ada usaha untuk memandirikan dirinya adalah hidup orang lain bukan tanggungjawab kita, hidup orang lain adalah tanggungjawab orang tersebut. 

Sedangkan untuk kasus A.. biarlah waktu yang kan menjawab.



Untuk Apa Berbuat Baik ? Untuk Apa Menolong Orang? | DONGBUD


Wirausahawan Cilik

    Wirausahawan Cilik Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menuru...