Pengertian Moral Disengagement
Setiap individu memiliki panduan moral dalam dirinya.
Individu mengetahui moral melalui interaksi dengan lingkungannya maupun melalui pendidikan di sekolah.
Berbagai moral yang diperoleh individu
tersebut menjadi
standar moral individu yang berfungsi sebagai pedoman perilaku. Namun demikian kadang-kadang individu
masih melakukan pelanggaran moral, misalnya saja berbohong melakukan bullying,
mencuri atau melakukan pemerkosaan.
Acapkali, ketika individu akan melakukan
tindakan yang tercela, terdapat pertentangan dalam dirinya. Pertentangan
tersebut antara ingin melakukan perbuatan yang melanggar moral dan panduan
moral dalam dirinya yang bisa mencegah individu melakukan perbuatan yang
tercela. Individu mengalami perasaan bersalah ketika dihadapkan pada keinginan
melanggar moral. Pada saat mengalami konflik dalam dirinya, individu
kadang-kadang kemudian membuat berbagai alasan agar ia dapat melakukan
perbuatan yang tercela tersebut tanpa merasa bersalah. Intinya individu mencoba melakukan
rasionalisasi agar ia dapat membenarkan dirinya untuk tindakan yang melanggar
moral tersebut. Proses rasionalisasi tersebut dalam psikologi dinamakan moral disengagement (Bandura, 1986, 2016). Jadi moral
disengagement adalah proses kognisi
yang melibatkan rasionalisasi dan
pembenaran ketika individu melakukan perbuatan yang menyimpang dari
moral atau etika.
Terdapat delapan moral disengagement yang dapat dilakukan oleh individu ketika
berada dalam situasi yang memungkinkan individu melanggar moral. yaitu:
1. Moral justification
(pembenaran moral)
Individu melakukan rasionalisasi yang dapat membenarkan perbuatannya.
Salah satu contoh dari moral
justification adalah para atlet yang berlaku curang. Menurut para atlet
tersebut tujuan kompetisi adalah untuk menang sehingga wajar berbuat curang
untuk memenangkan pertandingan.
2.
Palliative
comparison/advantegous camparison
Suatu
perbuatan dapat dinilai berdasarkan perbandingan dengan perbuatan lainnya. Individu
membandingkan dengan perilaku negatif lain yang dampak negatifnya lebih besar dan
menganggap bahwa pilihan perilaku yang positif kurang efektif dibandingkan
perilaku yang negatif, menganggap bahwa apa yang dilakukan sebagai pencegahan
untuk kerusakan yang lebih besar.
3. Euphemistic labelling
Eufimisme telah digunakan secara luas
untuk membentuk persepsi orang lain sehingga perbuatan yang sebenarnya kejam
tidak lagi terdengar kejam. Salah satu contoh penggunaan euphemistic labeling adalah yang dilakukan oleh para perawat ketika
melakukan kesalahan. Para perawat tersebut mengatakan kegagalan dalam memberika
obat hanyalah sebuah gangguan atau lupa..
4. Displacement of responsibilty
Displacement of responsibilty
terjadi ketika individu merasa melakukan perbuatan melanggar hukum atas
perintah orang lain yang memiliki otoritas. Dengan demikian individu tidak
perlu bertanggung jawab atas akibat dari perbuatannya. Sebagai contoh para
algojo yang bertugas melakukan eksekusi hukuman mati akan mengatakan bahwa
mereka membunuh para terhukum mati atas perintah pengadilan. Dengan demikian
para eksekutor terhindar dari rasa tanggungjawab pribadi dan perasaan bersalah..
5. Diffusion of responsibility
Peran kontrol terhadap moral dapat
menjadi lemah apabila individu merasa terdapar kekaburan tanggung jawab.. Diffusion of responsibility tampak dalam
proses pengerjaan produk industri, katika terjadi kesalahan maka pegawai dapat
menyalahkan divisi lainnya. Hal ini karena dalam industri terdapat beberapa
divisi atau bagian dengan tugas yang berbeda.
6.
Disregard
or Distortion of Consequences
Cara
lain untuk melemahkan peran kontrol moral adalah mengabaikan atau meminimalkan
akibat dari perbuatannya tersebut. Meminimalkan kerusakan dilakukan oleh
presiden Bush dengan cara melakukan kontrol terhadap penayangan perang Irak dan
Afganishtan di televisi. Dengan cara ini, presiden Bush dapat mencegah persepsi
negatif masyarakat Amerika terhadap serangan militer yang ia lakukan.
7.
Dehumanization
Cara
individu memandang dan menghargai orang lain turut menentukan apakah individu
mampu melakukan perbuatan yang tidak manusiawi atau melanggar hukum. Individu
memandang korban lebih rendah dari dirinya. Sebagai contoh, anak-anak pelaku bullying menganggap bahwa korban adalah
pecundang.
8.
Attribution
of blame
Menyalahkan orang lain (korban) dan
lingkungan adalah salah satu cara yang biasanya dipakai individu ketika
melakukan perbuatan yang melanggar hukum (Bandura, 1986, 2002). Contoh dari attribution of blame adalah menyalahkan
perempuan sebagai pihak yang mengundang terjadinya pemerkosaan pada diri
mereka.
Empati dan Moral Disengagement
Berdasarkan beberapa hasil penelitian,
salah satu faktor penyebab individu melakukan moral disengagement adalah rendahnya empati dalam diri individu. Empati
adalah perasaan yang berkaitan dengan moral. Empati muncul ketika individu
melihat pederitaan orang lain. Individu dengan empati tinggi akan merasa
kasihan pada orang yang mengalami penderitaan. Sebaliknya bila individu
memiliki empati rendah, ia akan mengabaikan orang yang menderita. Jadi dapat
dipahami, ketika empati individu rendah maka individu dapat dengan mudah
membuat alasan yang dapat membenarkan dirinya melakukan perbuatan tercela pada
orang lain.
Sebagai contoh adalah perilaku bullying.
Individu yang memiliki empati rendah dapat melakukan dehumanisasi atau
merendahkan korban. Pelaku menganggap bahwa korban adalah pecundang yang pantas
dikenai bullying. Contoh lain adalah apa yang terjadi pada pelaku pemerkosaan.
Si pemerkosa akan menganggap penderitaan yang dialami korban akibat
perbuatannya adalah hal yang keci, bahwa korban sebenarnya tidak menderita
tetapi menyukai diperlakukan demikian. Demikian pula pada pelaku pencurian, si
pelaku menganggap bahwa kerugian yang dialami korban akibat pencurian yang
dilakukannya adalah bukan urusannya.
Tiga contoh tersebut menggambarkan bahwa
ketika individu memiliki empati yang rendah, ia tidak bisa merasa kasihan atau
sengaja mengabaikan perasaan korban. Pelaku kejahatan berpendapat bahwa apa
yang dialami oleh korban bukan urusannya. Pemikiran ini memudahkan pelanggar
moral melakuan rasionalisasi atau pembenaran untuk tetap meneruskan niatnya
melakukan pelanggaran moral.
Moral
disengagement membawa dampak negatif baik bagi
individu maupun bagi orang lain yang menjadi korban pelanggaran moral individu.
Apabila salah satu faktor yang menyebabkan individu melakukan moral
disengagement adalah rendanya empati maka untuk meminimalkan munculnya moral disengagement adalah meningkatkan
empati dalam diri individu.
Belajar Empati
Ada
individu yang terlahir dengan memiliki empati yang tinggi namun ada juga yang
tingkat empatinya masih kurang. Empati dapat ditumbuhkan dalam diri individu. Idealnya,
sejak masih usia anak, individu sudah diajarkan untuk berempati. Belajar
berempati pada orang lain dapat dilakukan oleh orangtua di rumah maupun di
sekolah oleh guru. Inti dari pembelajaran empati adalah memahami apa yang
dirasakan oleh orang lain. Langkah-langkah untuk mengajarkan empati adalah
sebagai berikut:
Awal
untuk belajar empati adalah mengenal berbagai macam perasaan dan apa penyebab
perasaan tersebut. Individu dapat mengalami perasaan marah, senang, terkejut,
sedih, bosan, takut, khawatir dan kecewa. Anak dapat mengeksplorasi dirinya
kapan dia mengalami berbagai perasaan tersebut dan apa yang menyebabkan
munculnya perasaan tersebut. Sebagai contoh, perasaan bahagia akan dialami anak
bila ia mendapat hadiah atau nilai bagus atau dipuji. Perasaan marah dapat
dialami anak ketika ia diperlakukan tidak adil. Perasaan sedih mungkin dapat
dialami anak ketika ia dihina atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari
teman.
2. Apabila
anak sudah dapat mengenal berbagai perasaan dalam dirinya dan penyebabnya,
tahap selanjutnya adalah memberi pemahaman pada anak bahwa orang lain dapat
mengalami berbagai perasaan tersebut. Pada tahap ini, orang tua atau guru juga
memberi pemahaman bahwa perlakuan kita pada orang lain dapat menjadi penyebab
munculnya salah satu atau beberapa perasaan tersebut. Sebagai contoh ketika
anak memberi hadiah kejutan pada temannya yang berulang tahun, si teman dapat
mengalami perasaan bahagia bercampur terkejut.
3. Orang
tua dan guru dapat terus melatih anak untuk berempati dengan memberi anak
pertanyaan mengenai perasaannya setelah individu mengalami sesuatu. apa yang
kamu rasakan? Bagaimana perasaanmu? Pertanyaan
ini megajarkan anak untuk peka pada apa yang dirasakan dan mengetahui
penyebabnya.
4. Ketika
anak berkonflik dengan orang lain, orangtua atau guru dapat melatih anak memecahkan masalah menggunakan metode STOP –
THINK – DO.
a. STOP
– anak diajak berpikir masalah yang terjadi apa, melibatkan siapa saja,
dampaknya apa, bagaimana perasaannya, bagaimana perasaan orang yang terlibat
dalam msalah tersebut.
b. THINK
– anak diajak berpikir, alternative memecahkan masalahnya apa?
c. DO
– memilih salah satu alternatif pemecahan masalah. Tentu saja jika pemecahan
masalah yang dipilih anak dianggap kurang tepat, orangtua atau guru dapat
mengajak anak ke tahap THINK kembali.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi
orangtua dan guru untuk dapat meningkatkan empati pada anak. Diharapkan
nantinya empati yang tinggi dapat mencegah individu membuat moral disengagement.