Wirausahawan Cilik
Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menurun dari para nenek dan nenek buyutnya.
Anak saya pertama kali jualan ketika masih ada di TK A. Tiba-tiba anak saya bilang kalau ia ingin jualan mainannya. Ia sendiri yang memberi harga di mainannya... Akhirnya, saya dan suami menemani anak saya jualan mainan bekas di pasar dekat rumah. Kami menggelar koran sebagai tempat untuk barang-barang. Untunglah, ada ibu teman anak saya di TK yang lewat dan mau membeli satu mainan. Duh, anak saya senang sekali.
Saya awalnya, mengira itu hanya kesenangan sesaat, namun terus berlanjut.
Saya ingat, ketika kelas satu sekolah dasar, anak saya juga jualan ke teman-temannya. Dia jualan gantungan kunci. Ketika pulang sekolah, anak saya cerita bahwa banyak temannya yang membeli. Saya heran, buat apa anak kelas satu SD membeli gantungan kunci. Saya tanya ke anak saya, bagaimana cara kamu menjual. Anak saya cerita kalau ia bilang ke teman-temannya jika membeli dua gantungan kunci akan diberi hadiah. Lalu saya tanya lagi apa hadiahnya? Anak saya dengan polosnya bilang hadiahnya adalah nomor telepon Pizza Hut. Rupanya, anak saya menaruh gantungan kunci itu di wadah plastik bekas salad Pizza Hut. Di tutup wadah plastik itu ada nomor telepon Pizza Hut. Saya hanya geleng geleng kepala, antara kagum dan geli.
Ketika kelas lima SD, anak saya berjualan topeng. Ia membeli secara online dan menjualnya ke teman-temannya. Ia menggunakan sistem pre - order. Ia juga meminta dua orang teman untuk menawarkan ke teman-teman lainnya. Ia menjanjikan topeng gratis pada dua orang temannya itu. Jualan topeng ini terbilang cukup sukses karena ia dan dua orang temannya bisa mendapatkan topeng gratis plus sedikit keuntungan.
Lain lagi ketika anak saya kelas enam SD. Ia sempat berjualan uang lama untuk koleksi. Ini terjadi secara tidak sengaja. Anak saya menerima uang kembalian koin yang masih baru. Temannya lalu meminta uang koin tersebut. Anak saya lalu melihat ini sebagai peluang berjualan uang lama untuk koleksi. Untuk menarik minat teman-temannya itu, anak saya menjelaskan ini uang jaman kapan dan cara mengkoleksi uang lama. Anak saya juga memberitahu link di youtube tentang koleksi uang lama. Cukup banyak teman-temannya yang tertarik untuk membeli uang lama. Sampai-sampai anak saya minta salah satu temannya yang orangtuanya kaya menjadi pemodal sehingga anak saya bisa kulakan uang lama. Jualan ini sukses karena anak saya mendapat untung banyak.
Sebagai orangtua, tentu saya bangga (dan heran) dengan apa yang dilakukan oleh anak saya. Saya tetap mendukung, mendoakan dan mengarahkan saja agar anak saya semakin berkembang. Karena, bukankah itu kewajiban orangtua. Mudah-mudahan kelak anak saya menjadi wirausahawan sejati seperti Chairul Tanjung, Ciputra, Nadiem Makarim, Donald Trump, Bill Gates ataupun Jack Ma.
Amin.
No comments:
Post a Comment