‏إظهار الرسائل ذات التسميات Sekelumit Kisah. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Sekelumit Kisah. إظهار كافة الرسائل

السبت، 29 أغسطس 2020

Wirausahawan Cilik

 Perbedaan Besar Karyawan dan Wirausahawan – digie 

Wirausahawan Cilik


Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menurun dari para nenek dan nenek buyutnya.

Anak saya pertama kali jualan ketika masih ada di TK A. Tiba-tiba anak saya bilang kalau ia ingin jualan mainannya. Ia sendiri yang memberi harga di mainannya... Akhirnya, saya dan suami menemani anak saya jualan mainan bekas di pasar dekat rumah. Kami menggelar koran sebagai tempat untuk barang-barang. Untunglah, ada ibu teman anak saya di TK yang lewat dan mau membeli satu mainan. Duh, anak saya senang sekali.

Saya awalnya, mengira itu hanya kesenangan sesaat, namun terus berlanjut.

Saya ingat, ketika kelas satu sekolah dasar, anak saya juga jualan ke teman-temannya. Dia jualan gantungan kunci. Ketika pulang sekolah, anak saya cerita bahwa banyak temannya yang membeli. Saya heran, buat apa anak kelas satu SD membeli gantungan kunci. Saya tanya ke anak saya, bagaimana cara kamu menjual. Anak saya cerita kalau ia bilang ke teman-temannya jika membeli dua gantungan kunci akan diberi hadiah. Lalu saya tanya lagi apa hadiahnya? Anak saya dengan polosnya bilang hadiahnya adalah nomor telepon Pizza Hut. Rupanya, anak saya menaruh gantungan kunci itu di wadah plastik bekas salad Pizza Hut. Di tutup wadah plastik itu ada nomor telepon Pizza Hut. Saya hanya geleng geleng kepala, antara kagum dan geli.



Ketika kelas lima SD, anak saya berjualan topeng. Ia membeli secara online dan menjualnya ke teman-temannya. Ia menggunakan sistem pre - order. Ia juga meminta dua orang teman untuk menawarkan ke teman-teman lainnya. Ia menjanjikan topeng gratis pada dua orang temannya itu. Jualan topeng ini terbilang cukup sukses karena ia dan dua orang temannya bisa mendapatkan topeng gratis plus sedikit keuntungan. 

Lain lagi ketika anak saya kelas enam SD. Ia sempat berjualan uang lama untuk koleksi. Ini terjadi secara tidak sengaja. Anak saya menerima uang kembalian koin yang masih baru. Temannya lalu meminta uang koin tersebut. Anak saya lalu melihat ini sebagai peluang berjualan uang lama untuk koleksi. Untuk menarik minat teman-temannya itu, anak saya menjelaskan ini uang jaman kapan dan cara mengkoleksi uang lama. Anak saya juga memberitahu link di youtube tentang koleksi uang lama. Cukup banyak teman-temannya yang tertarik untuk membeli uang lama.  Sampai-sampai anak saya minta salah satu temannya yang orangtuanya kaya menjadi pemodal sehingga anak saya bisa kulakan uang lama. Jualan ini sukses karena anak saya mendapat untung  banyak. 

Sebagai orangtua, tentu saya bangga (dan heran) dengan apa yang dilakukan oleh anak saya. Saya tetap mendukung, mendoakan dan mengarahkan saja agar anak saya semakin berkembang. Karena, bukankah itu kewajiban orangtua. Mudah-mudahan kelak anak saya menjadi wirausahawan sejati seperti Chairul Tanjung, Ciputra, Nadiem Makarim, Donald Trump, Bill Gates ataupun Jack Ma.

Amin. 



الاثنين، 6 يوليو 2020

Penggemar Blackpink

                                      Fakta Lagu Baru BLACKPINK 'How You Like That' yang Akan Segera Rilis

Penggemar Blackpink
 
Blackpink is back dan langsung meraih sukses besar. Mantul alias mantap betul.

Saya suka blackpink. Mungkin bukan fans setia atau anggota fans club blackpink. Saya hanya suka dengan group penyanyi K-Pop yang satu ini Mungkin ini satu satunya group penyanyi korea yang saya suka (saya gak sempat nonton  yang lain sih...tapi yang pasti kalau group penyanyi korea cowok bisa dipastikan saya sama sekali gak ngefans, saya lebih suka Sharukh Khan atau Brad pitt yang usianya gak terpaut jauh dengan saya ha ha ha)

Mungkin saya satu-satunya penggemar blackpink yang jelita (jelang lima puluh tahun). Toh rasanya tidak ada larangan dan batasan usia untuk menggemari sesuatu. Tentu saja saya tidak akan meniru gaya blackpink yang keren itu. Saya juga tidak akan mencoba meng-cover lagu dan tarian blackpink. Bisa encok pinggang saya. Bahkan bila blackpink ke Indonesia saya tidak akan ngotot menonton konsernya. Sadar akan usia,.Cukup saya menikmati nyanyian dan tarian mereka di youtube manakala senggang. 

Saya tahu blackpink gara-gara penasaran setelah melihat video anak yang diimunisasi sambil menyanyi lagu blackpink du du du du. Saya lantas mencari tahu apa itu blackpink dan lagu du du du itu. Setelah nonton saya langsung suka dengan kuartet Jiso, Rose, Jenni dan Lisa. 

Apa yang membuat saya suka?... sulit menentukannya mungkin gaya menyanyi mereka yang memikat, mungkin lagunya yang easy listening, mungkin tarian mereka yang energik, mungkin juga penampilan mereka yang keren atau mungkin perpaduan itu semua. Ya.. saya suka semuanya dari gaya dan penampilan blackpink. 

Dibalik penanpilan mereka yang ditampilkan ke publik, setiap kali melihat video blackpink terlintas dalam benak saya berapa kali ya mereka latihan? Koq bisa mereka hafal gerakan tari seperti itu. Pastinya mereka bekerja keras melatih lagu dan gerakan koreografi yang bagi saya terlihat rumit. Kerja keras mereka membuat saya kagum. Kerja keras mereka tidak sia-sia karena apa yang mereka tampilkan disukai oleh banyak orang di berbagai negara. Ini bukti nyata perpaduan sempurna antara bakat dan kerja keras. 

Berbakat saja tidak cukup. Orang yang berbakat tapi tidak disiplin berlatih bisa kalah dari orang yang kurang berbakat namun mau bekerja keras. Ini saya pahami betul karena pelatih wushu dan guru piano anak saya kompak mengatakan hal yang sama. Bakat dan kerja keras merupakan perpaduan yang sempurna. Blackpink adalah salah satu contohnya. 

Saya lantas lanjut berpikir, apakah para penggemar blackpink sadar akan hal ini? Sadar bahwa kesuksesan blackpink adalah buah dari kerja keras mereka? Jangan-jangan para penggemar ini hanya terpukau oleh yang mereka lihat. Jangan-jangan hanya pesona dan blink blink di panggung yang menyita perhatian penggemar. Bila Ini yang terjadi maka bisa berbahaya karena para penggemar ini bisa terbuai mimpi. Para penggemar ingin seperti blackpink namun lupa ada harga yang harus dibayar yaitu kerja keras. 

Alangkah lebih bermanfaat bila yang kita tiru dari blackpink atau idola lainnya bukan hanya penampilan yang keren namun justru kerja keras mereka. Tidak salah sih meniru penampilan karena penampilan juga penting. Betul. Saya akan mendukung bila ada yang meniru gaya berbusana blackpink asalkan sesuai dengan pemakainya dan sesuai pula dengan situasi. Siapa sih yang tidak ingin terlihat keren? Namun meniru kerja keras mereka juga bermanfaat bagi diri kita. Bidang apapun yang kita tekuni asal kita terus berjuang tentu akan mendatangkan hasil yang postif. Memang sih, mungkin kita tidak akan sepert blackpink karena tidak semua penggemar blackpink jago menyanyi dan menari namun kita toh bisa sukses di bidang kita masing-masing asalkan mau bekerja keras. Jadi kita tidak hanya sekedar penggemar yang berteriak teriak menemui blackpink, berdandan ala blacckpink atau idola lainnya. Kita menjadi penggemar yang meniru kerja keras blackpink. .  

Ya... itu pemikiran saya sih.. mudah mudahan bermanfaat.
Sekarang lebih baik saya menonton Jiso, Rose, Jenni dan Lisa menyanyi dan menari.
Blackpink in your area...

BLACKPINK on the Message of New Single 'How You Like That' | Time


الأحد، 5 يوليو 2020

Bantuan yang melenakan

Menolong Ya Harus Ikhlas, Kalau Mengharap Imbalan Itu Namanya ... Bantuan yang melenakan

Saya rasa orang akan sepakat bahwa membantu adalah perbuatan yang mulia. Norma dan ajaran agama manapun 100% juga akan mengatakan demikian. Pada dasarnya, membantu atau memberi pertolongan bertujuan untuk mensejahterakan orang yang kita tolong. Harapannya melalui bantuan yang kita berikan, orang yang kita tolong dapat lebih berdaya.

Namun apakah semua orang yang diberi pertolongan akan berusaha untuk lebih berdaya... Kejadian yang saya alami memaksa saya merenungkan hal ini.

Seseorang yang saya kenal, sebut saja A selalu meminta bantuan keuangan kepada keluarga besarnya (tante dan para saudara sepupu). Memang sih, A ini mengidap penyakit epilepsi, namun apakah itu bisa menjadi alasan untuk selalu minta bantuan keuangan? A ini sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Satu anaknya sudah lulus SMA sedangkan anak kedua baru mau masuk SMP. Saat ini A sudah berusia lebih dari 50 tahun dan tidak memiliki pekerjaan. Dulu, A dan anak istrinya menggantungkan diri pada uang pensiun ayahnya dan juga bantuan keuangan dari adik A. 

A ini dulunya anak emas ibunya. Maklum anak laki-laki satu-satunya. Sang ibu selalu membela A dan meminta sang adik untuk membantu kakaknya ini. Penyakit epilepsi selalu dijadikan alasan (atau senjata?) mengapa si A tidak bisa bekerja.


Kartun, Animasi, Gambar gambar png Awalnya, A beserta anak istrinya tinggal jadi satu rumah dengan adik dan ibunya. Namun kemudian, adik dan ibu memutuskan tinggal di tempat lain dengan harapan A dapat mandiri. Sayang, di sayang A tetap menolak bekerja dan tetap meminta bantuan keuangan dari adik.Lama kelamaan, tidak hanya sang adik yang menjadi sasaran meminta bantuan tapi para saudara sepupu juga dimintai bantuan keuangan untuk berbagai keperluan, misalnya membayar listrik, membayar wifi, uang keperluan sekolah anak dan sebagainya. Kadang terasa menggelikan dan ironi, bagaimana tidak pernah tagihan listrik rumah A lebih mahal dari tagihan listrik rumah yang memberi bantuan. Pernah pula salah seorang sepupu A memberi uang pada A untuk membayar tagihan wifi padahal saat itu sang sepupu belum berlangganan wifi. 

Pernah sih, salah seorang sepupu yang lain hendak memberikan modal pada A untuk berwirausaha, namun A dengan seribu satu alasan mengatakan bahwa tidak mungkin berdagang di daerah rumahnya.  Dua atau tiga kali A pernah mencoba berwiraswasta namun entah mengapa tidak pernah bertahan lama. A kemudian kembali ke kebiasaan lama yaitu meminta bantuan keuangan. 
Entah sampai kapan.....???? (What a big question)

Saya bukannya hendak mengumbar aib atau masalah seseorang. Namun, kasus A ini membuat saya berpikir bahwa kadang maksud baik tidak selalu berbuah baik. Memberi bantuan dapat melenakan seseorang yang dibantu. Alih-alih berusaha berdaya melalui bantuan yang diberikan, justru penerima bantuan menjadi malas. Ia menggunakan penyakitnya untuk memanipulasi rasa iba orang lain. Toh ada yang akan membantu. Buat apa repot bekerja.

Dalam tulisan ini, saya tak hendak menyalahkan siapapun yang terlibat dalam kasus A ini. Saya hanya merefleksi bahwa rasa iba bisa melumpuhkan seseorang. Kebetulan orang-orang di sekeliling A ini mau memberi bantuan keuangan entah karena merasa sebagai saudara, tidak tega, karena norma dan sebagainya. Akibatnya A memiliki pikiran bahwa hidupnya adaah tanggungjawab orang lain (ibu, adik dan sepupu) karena ia sakit. A tidak merasa perlu bekerja karena akan ada seseorang yang mau membantunya.  Sebuah pikiran yang keliru, menurut saya, sebab hidup atau nasib seseorang adalah tanggungjawab orang itu sendiri. Sah saha saja bila suatu kali meminta bantuan orang lain, tapi masa iya sih terus menerus atau bahkan seumur hidup? 

Apakah salah memberi bantuan? Hmm, menurut saya sih memberi bantuan tetap perbuatan mulia. Namun, merujuk kasus A apakah perlu kita juga berhati-hati dalam memberikan bantuan? Bila kita terus menerus memberi bantuan pada seseorang padahal orang itu tidak mau berusaha untuk berdaya apakah itu berarti kita menjerumuskan orang tersebut memiliki kebiasaan buruk? Entahlah.... karena kadang kita tahu bahwa orang yang dibantu itu menjadi parasit dalam hidup kita namun kita merasa takut bersalah bila tidak kita bantu orang tersebut akan celaka atau akan sengsara hidupnya. 

Bingung ya... saya pun juga bingung bila dihadapkan pada situasi ini. Tetap dibantu atau tidak. Serasa pepatah tentang buah simalakama. Bila dimakan ibu mati namun bila tidak dimakan bapak mati. 

Satu hal yang yang menurut saya bisa jadi bahan pertimbangan ketika kita merasa seseorang selalu minta bantuan terus menerus tanpa ada usaha untuk memandirikan dirinya adalah hidup orang lain bukan tanggungjawab kita, hidup orang lain adalah tanggungjawab orang tersebut. 

Sedangkan untuk kasus A.. biarlah waktu yang kan menjawab.



Untuk Apa Berbuat Baik ? Untuk Apa Menolong Orang? | DONGBUD


Wirausahawan Cilik

    Wirausahawan Cilik Anak semata wayang saya, senang berjualan. Padahal saya dan suami tidak ada bakat wirausaha. Mungkin bakat ini menuru...